ULASAN Uncategorized

Tanpa Henti

Viaductpress.id – Namaku David, putra dari seorang pengusaha properti sekaligus ayah terhebat di dunia. Bukan karena perusahaannya yang besar, melainkan bagian terhebat dari ayah ku adalah dia juga tetap bisa memberikan kehangatannya bagi aku dan ibuku. Bagiku dia adalah sosok idola dan juga panutan dalam hidup, aku ingin seperti dirinya suatu saat kelak.

Sejak aku kecil ayah selalu mengajari ku menjadi seorang laki-laki sejati, mulai dari hormat kepada ibuku sampai bagaimana caranya bertahan hidup. Dia selalu menganggap itu bukan persoalan yang sepele, tetapi sesuatu yang sangat fundamental. Aku tidak pernah dimanjakan olehnya, harus ada sesuatu perjuangan yang aku lakukan ataupun aku raih untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Satu hal yang sangat aku kagumi darinya, hatinya. Dia pribadi yang sangat lembut dan tulus, dia mengajari ku untuk hidup dengan ikhlas dan selalu menebarkan energi positif, ini selalu ia tekankan kepadaku.

Saat itu aku tidak tau mengapa ia begitu keras ketika mengajariku hal-hal tersebut , aku baru menemukan jawabannya ketika umurku 14 tahun, atau kelas 2 SMP. Ayah tersandung kasus suap yang melibatkan perusahaannya, ada sejumlah uang yang diberikan atas nama perusahaan kepada beberapa instansi pemerintahan untuk mempermudah perizinan pembangunan sebuah gedung. Belakangan ayah bercerita bahwa sebenarnya bukan ia yang melakukan hal tersebut, melainkan koleganya yang memilki saham minoritas di perusahaan ayah. Ayah hanya bisa sabar dan ikhlas menjalani hukuman penjaranya selama beberapa tahun.

Aku dan ibu sangat terpukul, kami harus kehilangan harta yang disita oleh negara dan beberapa dijual untuk melanjutkan kehidupan kami. Tapi ayah mengatakan bahwa aku harus menjadi seorang laki-laki yang kuat dan tangguh, ia juga berpesan bahwa aku harus menjaga ibu. Hari demi hari yang berat mulai kami jalani, sampai hari yang kami tunggu pun tiba yaitu saat ayah keluar dari penjara.

Saat ayah keluar dari penjara, ayah dan ibu memutuskan untuk membuka usaha rumah makan, setahun berjalan usaha ayah dan ibu mulai berkembang. Aku yang saat itu baru lulus SMA pun dapat melanjutkan jenjang pendidikanku ke bangku kuliah, namun seolah tanpa henti, cobaan kembali menimpa keluarga kami. Rumah makan kami terbakar dan harus memakan beberapa korban, termasuk ibu. Ayah sangat sedih namun ia tidak ingin memperlihatkannya kepadaku, secara tidak langsung ia menyampaikan bahwa hidup harus tetap berjalan.

Kami mengalami kerugian yang begitu besar, aku sempat berpikir untuk menghentikan kuliah dan membantu ayah mencari uang, tetapi ayah tetap bersikukuh bahwa kuliahku harus tetap berjalan. Segala jenis pekerjaan sudah ayah lalui, mulai dari pelayan restoran, tukang ojek, hingga kuli bangunan. Aku pernah bertanya mengapa ia tidak meminta bantuan pada teman-temanya, ia hanya menjawab “yang bisa membantu kita hanya diri kita sendiri, jangan pernah berharap pada orang lain”. Begitu pula ketika aku membahas kasusnya diwaktu yang lalu, ia percaya bahwa Tuhan selalu punya jalan, dan menurutnya ini jalan yang harus kami tempuh.

Aku tidak pernah melihatnya mengeluh atau menyesali apa yang terjadi, namun ia selalu mengajariku untuk selalu berjuang dan mensyukuri apa yang ada, termasuk ketika ia hanya bisa pulang dengan sebungkus nasi padang jatah makan siangnya yang sengaja ia bawakan untuk kami makan bersama. Di malam itu ayah meminta untuk menyuapinku sambil berkata “nikmat kan! Kapan lagi coba kamu ayah suapin”. Senyum bahagia dari bibirnya membuat hatiku bergetar, entah apa yang ada dipikirannya ia masih bisa berbahagia di kondisi seperti ini.

Ayah selalu menikmati hari-harinya yang sangat berat, baginya tidak ada rintangan yang tidak bisa dilalui. Ketika ia memulai untuk membuka toko sembako namun kemudian tidak laku dan harus gulung tikar, tidak ada rasa sedih dalam dirinya. Melainkan ia hanya terus berpikir bagaimana kami dapat makan besok. Saat aku lulus kuliah ayah juga  memaksa untuk tetap bekerja, karena ia merasa masih kuat. Sampai suatu saat ia terkena serangan jantung dan harus meninggalkanku. Laki-laki tangguh itu pergi dengan pesan bahwa tidak ada kata berhenti untuk berjuang.

 

[Penulis: Exaudio]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *