OPINI

Harga properti bakal turun! (tapi bohong)

Benarkah dalam masa pandemi ini pasar properti di Indonesia akan jatuh? Benarkah pasar properti di Indonesia akan mengalami bubble property dikarenakan harga properti yang mencekik dan tidak masuk akal? 

Secara definitif, gelembung properti atau bubble property adalah pengibaratan harga properti seperti gelembung udara yang terus membesar hingga sampai pada titik puncak dimana permintaan melumpuh, kemudian akan terjadi kelebihan ketersediaan properti sehingga harga properti perlahan menurun. Hukum Ekonomi yang sangat sederhana yakni permintaan dan penawaran mungkin cukup menjelaskan alasan dibalik terjadinya fenomena ekonomi ini. Kita dapat melihat pun mendengar, banyak orang yang berspekulasi bahwa harga rumah akan perlahan menurun. “Ngapain buru-buru beli rumah sekarang? Liat aja tahun depan juga bakal bubble terus turun” katanya.

Ketika berbicara mengenai rumah, kita akan melihat segmentasi pasar berdasarkan income dari calon pembeli. Memang, segmen rumah murah yang bersubsidi untuk kelompok masyarakat bawah akan terus stabil karena dilindungi oleh regulasi negara. Akan tetapi, sayangnya, segmen rumah menengah di kisaran harga Rp.300 – Rp.900 juta tidak kunjung menurun. Melambungnya harga rumah kelas menengah ini sudah tidak lagi dapat dikejar oleh masyarakat berpenghasilan menengah, Masyarakat kelas menengah dengan penghasilannya tak lagi mampu untuk membeli rumah di segmen pasar properti menengah, seakan serba salah, masyarakat kelas menengah juga tidak bisa membeli properti kelas bawah karena dilindungi oleh regulasi yang berlaku. Memang, secara teori harga yang melambung tinggi akan menyebabkan sepinya permintaan atas properti, sehingga harganya akan menurun. Tetapi, mengapa hal ini tak kunjung terjadi? 

Simpel nya, yang berada pada market properti kelas menengah bukan hanya masyarakat kelas menengah, akan tetapi masyarakat kelas atas juga turut bersaing dalam segmen pasar ini. Ketika masyarakat kelas menengah ingin membeli rumah untuk kebutuhan primer, masyarakat kelas atas ini justru membeli rumah hanya untuk instrumen investasi. Letak masalahnya ada pada masyarakat kelas atas yang sebenarnya mampu untuk membeli satu, dua atau tiga rumah mewah dalam artian market properti kelas atas, akan tetapi memutuskan untuk hanya membeli satu rumah mewah dan banyak rumah menengah demi instrumen investasi. Lantas apa hasilnya? Masyarakat kelas menengah pun akan terjepit. Hal ini tentu sangat tidak sehat bila terus terjadi, mengingat masyarakat kelas atas ini memiliki ketahanan finansial yang tinggi, sehingga tidak masalah bagi mereka untuk menahan properti hingga berpuluh-puluh tahun atas nama investasi.

 

( Penulis : Nathanael Chandra Kusuma ) 

Sumber Foto : housingestate.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *