DUNIA KAMPUS

Alarm Itu Bernama Tragedi Semanggi II

Motor saya mengarungi jalan di bilangan Cengkareng, Jakarta Barat menuju kampus di pusat kota Jakarta. Jumat itu cukup terik untuk membuat saya sungkan meneruskan perjalanan. Namun, bermodalkan secarik puisi, keresahan, dan kepedulian saya mengarungi jalan untuk menebus segala kalut yang matang dijemur matahari siang itu. 

Sumber : Dokumentasi Pribadi

Jumat itu 24 September 2021, genap 22 tahun Tragedi Semanggi II diambang ketidakjelasan. Bahkan negara terkesan ingin melarikan diri dari dosa masa lalunya. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana Mahkamah Agung yang menolak kasasi yang diajukan oleh keluarga korban Tragedi Semanggi I dan II atas pernyataan Jaksa Agung yang menyebut bahwa Tragedi Semanggi I dan II bukan merupakan pelanggaran HAM berat berdasarkan Putusan denken Nomor Perkara 329 K/TUN/TF/2021.

Sumber : Dokumentasi Pribadi

Perjalanan 30 menit itu menjadi ajang kepala saya berkontemplasi. Sebab di tengah ratusan gedung-gedung yang saya lewati tersisa duka yang terus bertambah umurnya. Saya berpikir bagaimana keadilan di negara ini menjelma komoditas yang begitu mudah dimanipulasi. Negara yang diharapkan memenuhi tujuannya seperti yang tertulis indah di pembukaan UUD ‘45 ternyata memilih menghindari dosa-dosanya. Negara alpa dalam melindungi segenap bangsa dan tumpah darahnya, namun malah menutupi pembunuhan atas individu-individu itu. Pemikiran saya mengarahkan saya kepada pertanyaan yang tak mampu saya jawab sendiri, “Apa mungkin negara ini terlahir untuk mengkhianati janji-janjinya sendiri?”

Sumber : Dokumentasi Pribadi

Lima nama presiden telah berganti, Habibie hingga Jokowi, tentara hingga ulama, Demokrat hingga PDI. Namun nyatanya saya masih berpuisi di hadapan potret Yap Yun Hap dengan almamater kuning kebanggaannya. Bunga-bunga masih ditaburkan, kemanusiaan terus dikaburkan.

Masker masih menghimpit mulut ketika kata demi kata mencoba bersuara. Mencoba mengais semangat demi semangat atas keadilan yang semakin mahal harganya. Kita semua tentu berharap peringatan ini segera berhenti. Namun bila memang pada akhirnya keadilan tak bisa kita jangkau, maka biarkan peringatan-peringatan ini terus berjalan. Sambil berharap agar kelak negara mengakui dosanya atas tumpah darahnya sendiri.

 

( Penulis : I Gede Oka Kertiyasa )

Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *