DUNIA HUKUM

Pak Polisi…. Pak Polisi…. Tolong Lebih Manusiawi

Kekuatanmu di balik lencana, miliki senjata membuatmu bergaya? Lelucon sedih dibawah kendali, lecehkan mereka yang tak punya lencana.” Sepenggal lirik dari sebuah lagu yang berjudul lencana dari sebuah band rock beroktan tinggi asal Jakarta yaitu, Seringai. Lagu ini dirilis pada tahun 2004, namun hingga saat ini, November 2021 makna dari lagu itu masih relevan terhadap permasalahan yang ada di tubuh sang pemegang  lencana, yaitu Polri.

Institusi yang bermarkas di Jalan Trunojoyo itu kini sedang mendapat sorotan publik. Bukan rasa bangga, namun sebuah rapor merah, kekecewaan atau bahkan kemarahan besar yang sedang berkecamuk. Bukan hanya karena satu atau dua alasan, namun berlapis alasan. Mulai dari seorang polisi membanting mahasiswa yang sedang aksi hingga kejang, lalu tindakan Kapolsek Parigi yang mengencani anak seorang tersangka, hingga tagar #percumalaporpolisi. Entah apa yang terjadi, bagai melumuri kotoran ke wajah sendiri, beberapa anggota Polri bak menyibak tabir kebobrokan mereka sendiri.

Entah masih layak disebut oknum atau tidak, entah masih layak disebut penyelewengan atau tidak. Kebobrokan yang dipertunjukkan seolah-olah sudah menjadi budaya, contohnya praktik kekerasan yang sepertinya sudah mendarah daging di dalam institusi ini. Tak pandang bulu, bukan hanya kepada sipil namun hal itu juga dilakukan kepada saudara satu matra, seperti ketika Kapolres Nunukan yang melakukan penganiayaan kepada bawahannya. Kemudian, tagar #percumalaporpolisi yang viral juga menjadi salah satu bukti bentuk ketidakpercayaan masyarakat pada polisi. Bahkan anekdot yang berkembang saat ini adalah, polisi tidak akan bertindak apabila kasus belum viral.

Polisi yang seharusnya menjadi abdi utama bagi nusa dan bangsa, justru dipertanyakan kredibilitas dan integritasnya, terutama sebagai penegak hukum. Selain jumlah bintang yang berlimpah, pekerjaan rumah juga berlimpah dipundak Listyo Sigit Prabowo, orang nomor satu di Korps Bhayangkara. Belum genap setahun ia menjadi Kapolri namun tantangan besar harus dihadapinya. Ia tentu harus mengambil langkah yang besar untuk perbaikan anak buahnya. Mungkin bukan lagi reformasi, namun revolusi. Harus ada satu langkah fundamental yang ditempuh, harus ada perubahan sampai hal yang terkecil, bahkan perubahan harus dimulai dari sistem rekrutmen itu sendiri.

Perubahan ini harus dilakukan secepatnya dan sebesar-besarnya, singkirkan oknum-oknum nakal yang tidak berkompeten. Bersihkan sampai akar-akarnya, jangan sampai dimulai dari satu atau dua orang oknum, meningkat menjadi satu regu, satu peleton, atau bahkan jadi markas yang isinya penjahat berlencana polisi. Bukan hanya seorang Listyo Sigit, tugas atas pembenahan Polri juga harus diawasi langsung oleh DPR, bahkan presiden, agar Polri kembali ke marwahnya sebagai pelayan, pelindung dan pengayom.

 

( Penulis : Alva Radimpos Exaudio )

Sumber Foto : qeluarga.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *