RAGAM

Hampir Menjadi Tumbal

Nama ku Rika, aku adalah seorang siswa SMA di salah satu sekolah ternama di kota Surabaya. Pada suatu hari di bulan November, sekolah ku mengadakan karya wisata ke kota Malang, semua berjalan menyenangkan sampai akhirnya kita semua sampai kembali di sekolah jam 1 pagi. Orang tua ku mengira aku akan menginap di Malang dan begitu juga aku, tapi ternyata tidak. Semua teman – teman ku sudah pulang dengan jemputannya masing – masing, hanya tersisa aku dan Maudy, teman sebangku ku. Tak lama kemudian ayah Maudy datang menjemput Maudy.

“Kamu belum dijemput?”, tanya ayah Maudy sambil menunggu Maudy membereskan barang bawaannya. “Belum om” jawab ku dengan suara kecil, melihat hanya tersisa aku sendiri yang belum pulang, ayah Maudy mengajak aku untuk tidur mengingap di rumah Maudy saja dan pulang besok pagi. Tapi ini terasa aneh, karena di sekolah orang tua Maudy terkenal sombong dan angkuh, memang juga keluarga Maudy adalah keluarga yang terbilang kaya. Tapi daripada aku sendirian tengah malam, tanpa berpikir panjang aku ikut dan menginap di rumah Maudy.

 Seperti yang kuduga, suasana selama perjalanan sangatlah hening dan canggung, namun aku sangat terkejut ketika aku sampai di rumahnya, aku dijamu dengan hidangan yang sangat mewah. Setelah selesai makan dan bersih – bersih, aku dan Maudy masuk ke kamar dan tidur. Maudy tertidur pulas sampai mengigau, tapi entah kenapa aku tidak bisa tidur padahal waktu sudah menunjukan pukul 3.30 pagi. Tiba – tiba aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat dan masuk ke kamar, awalnya ku kira itu maling, dengan penasaran aku mengintip untuk melihat itu siapa. Ternyata itu orang tua Maudy, tapi aku merasakan sesuatu yang aneh menjalar di kaki ku, aku mulai curiga mengapa mereka mengelus – elus kaki ku.

Setelah mereka keluar, dengan panik aku melihat apa yang ada di kaki ku, aku terheran – heran melihat ibu jari kaki ku dibalut dengan kain kuning yang setelah ku buka berisikan kertas bertuliskan aksara Jawa Kuno. Aku berfikir mungkin orang tua Maudy salah mengira Maudy yang ternyata itu kaki ku, dengan cepat aku pindahkan balutan kain kuning itu ke ibu jari kaki Maudy. Tak lama kemudian aku mendengar suara langkah kaki menuju kamar lagi, tapi kali ini lebih keras, aku langsung pura – pura tidur lagi. Tapi kali ini ada yang aneh, tidak ada suara buka pintu atau cahaya yang masuk dari luar kamar. 

Dengan penasaran aku mencoba untuk mengintip lagi, tetapi aku tidak melihat sosok apa pun, tetapi suara langkah kakinya sangat jelas terdengar berjalan di dalam kamar. Aku tidak bisa tidur karena panik dan aku sadar bahwa kali ini yang masuk bukanlah manusia. Aku berusaha untuk tidur tetapi aku diganggu dengan suara yang mengganggu dari Maudy yang posisinya dibelakang punggung ku. Terdengar seperti suara kucing yang sedang memakan tulang, aku pikir Maudy sedang mengigau lagi. Suara itu terdengar sangat keras dan cukup lama sampai akhirnya aku tertidur.

Saat aku bangun aku terkejut bukan kepalang, disaat aku buka mata aku melihat Maudy sedang terbaring di depan ku dengan mata melotot keluar dan mulut terbuka lemas. Ku coba untuk membangunkan Maudy tapi sepertinya Maudy sudah tidak bernyawa. Dan sekarang aku baru mengerti, bahawa kain kuning yang dibalutkan di kaki ku adalah tanda untuk tumbal untuk genderuwo yang dipelihara oleh orang tua Maudy. 

 

( Penulis : Taruna Ardy Matthew )

Sumber Foto : istockphoto.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *