OPINI RAGAM

Keberuntungan, Keajaiban dan Mentalitas

Real Madrid Club De Futbol, rasanya tidak mungkin ada yang tidak tahu nama itu. Sebuah tim berusia 120 tahun, yang berbasis di ibu kota Spanyol, yaitu Madrid. Raja Eropa, pengepul trofi, dan identik dengan pemain bintang, itu yang terlintas di pikiran kita ketika mendengar namanya. Tidak hanya menjadi Raja di Negeri Matador, El Real juga menjadi tim yang paling berkuasa di benua Eropa. Hal ini terbukti dari raihan 13 piala UEFA Champions League (UCL) yang berhasil dikumpulkan, bahkan Real Madrid menjadi satu-satunya tim yang berhasil mencetak hattrick kala menjuarai trofi si kuping besar. Skuad Real Madrid juga diisi oleh pemain-pemain bintang berkelas dunia, maka dari itu tim ini juga dijuluki Los Galacticos.

Namun, akhir-akhir ini kata-kata itu seolah menghilang secara perlahan, digantikan oleh keberuntungan, keajaiban dan mentalitas. Entah apa yang terjadi, skuad ini cdenderung bermain monoton, bahkan strategi yang diberikan Carlo Ancelotti kerap dinilai miskin taktik.  Hal yang membuat para penikmat si kulit bundar tambah terheran-heran adalah dengan permainan seadanya Madrid selalu keluar menjadi pemenang di laga-laga krusial dan tentunya berhasil memastikan tampil di Paris dalam partai final UCL. Pangeran Siahaan pernah bersabda melalui tulisannya, bahwa sepak bola bukan kompetisi kecantikan yang pemenangnya ditentukan secara kualitatif  dalam perspektif juri mengenai seberapa cantik pesertanya, namun ditentukan secara kuantitatif lewat seberapa banyak gol yang diciptakan. Tim yang paling banyak mencetak gol niscaya menjadi tim yang keluar sebagai pemenang.

Sumber: Media Indonesia

Well, itulah yang sekiranya terjadi pada Madrid. Madridista selalu percaya bahwa gol kemenangan itu akan terjadi sampai wasit meniup peluit panjang. Kepercayaan itu ada sejak final di Lisbon pada 2014. Tandukkan Sergio Ramos sang el capitano di menit 93 berhasil membuat Madridista percaya akan adanya “comeback”.  Itulah yang kembali menjadi bumbu perjalanan Madrid sampai ke final Liga Champions 2022. PSG, Chelsea, dan Manchester City sudah menjadi korbannya. Tiga fase berbeda satu cara kemenangan, comeback.

Keberuntungan? Ya bisa saja. Beruntung Madrid bisa mencetak gol lebih banyak di menit-menit akhir laga, beruntung Madrid memiliki Modric yang selalu punya sihir di lapangan, beruntung Benzema mendapat penalti ketika bersua Manchester City, beruntung pemain muda Madrid selalu bermain dengan solid, beruntung Madrid memiliki ultras sur yang selalu hadir dan mendukung penuh mereka, dan entah berapa keberuntungan lagi yang harus dijabarkan.

Keajaiban? Ya, bisa saja. Layaknya umat Kristiani yang percaya bahwa Yesus dapat melakukan apapun, begitu juga dengan Madridista yang percaya bahwa Los Galacticos dapat melakukan apapun. Apabila Yesus dapat mengubah air menjadi anggur, Real Madrid mampu mengubah ketertinggalan menjadi kemenangan, apabila Yesus mampu membangkitkan orang mati menjadi hidup kembali, Real Madrid mampu membangkitkan wajah yang tertunduk lesu karena kekalahan menjadi senyum sumringah tanda kemenangan. Memang keajaiban yang diberikan Madrid tentu tidak sebanding dengan apa yang dilakukan Yesus, tapi Madridista selalu percaya bahwa keajaiban itu akan selalu diberikan Real Madrid.

Mentalitas? Ya, bisa saja. Sergio Ramos, Cristiano Ronaldo, dan Marcello berhasil menjalankan perannya sebagai senior dan kapten. Inilah yang mungkin tidak dimiliki tim lain, mereka mampu menyalurkan naluri dan kewajiban untuk menang di setiap pertandingan. Kobaran semangat, jiwa pantang menyerah, dan mental juara selalu mengalir di dalam jiwa dan raga pemain, bahkan sampai kepada seluruh Madridista. Mungkin kekuatan dan kesiapan mental ini hanya ada pada Real Madrid dan Madridista.

Sumber: tirto.id

Real Madrid bukan hanya sebuah klub, Real Madrid adalah gambaran sepak bola yang sesungguhnya. Apa yang dilakukan Madrid adalah sebuah hal magis. Ini membuktikan bahwa segalanya dapat terjadi di sepak bola, bukan hanya sekedar skill dan pola bermain bagus, tapi ada faktor lain yang entah apa itu namanya, yang dapat menentukan kemenangan dan keberhasilan sebuah tim. Saya menulis tulisan ini, pada hari Kamis, 13 Mei 2022, ketika tulisan ini diterbitkan kick off final Liga Champions 2022 belum dimulai. Tapi bahkan sebelum peluit kick off dibunyikan saya yakin sang Raja Eropa akan kembali merebut takhtanya yang ke empat belas yang kali ini diantarkan setelah menginjak karpet berwarna merah dari Barat Laut Britania Raya.

 

Penulis: Alva Radimpos Exaudio

Thumbnail: CNN Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *