LIFESTYLE RAGAM

Stoikisme; Cara Emas Atasi Cemas

Di tengah perkembangan teknologi digital,setiap harinya kita dibanjiri jutaan informasi. Di satu sisi, itu adalah hal yang baik dan memajukan peradaban. Tetapi di sisi lain kita tidak bisa menolak bahwa hal tersebut juga dapat membawa dampak yang cukup Impactful. Misal, ketika lo buka Instagram, lo melihat temen-temen lo bikin story yang nunjukin kesuksesan mereka di usia yang muda dan kehidupan mereka yang terlihat lebih baik daripada kehidupan lo.

Ketika terus menerus menghadapi situasi ini, akhirnya kita mempunyai pikiran ‘apa yang salah dari hidup gue?’ atau ‘kenapa orang lain bisa lebih maju sedangkan gue begini – gini aja?’ sehingga kita merasa bahwa kita terjebak dalam sebuah lomba lari yang sebenernya gak pengen kita ikuti.

Sumber: paulinus.net

Jadi, apa, sih Stoikisme? Stoikisme adalah aliran pikiran yang asalnya dari Yunani Kuno, kalau didefinisikan, cangkupan Stoikisme sebenarnya luas, tetapi kita akan bahas secara sederhana.

Stoikisme mendefinisikan hidup terbagi menjadi 2 dimensi, di mana yang pertama adalah ‘dimensi internal’ dan yang kedua adalah ‘dimensi eksternal’; inilah yang dinamakan ‘dikotomi kendali’. Apa itu dimensi internal? Dimensi internal sendiri adalah segala sesuatu yang berada dalam kendali kita sendiri secara penuh. Seperti kehendak, komitmen dan aksi kita sendiri. Sedangkan dimensi eksternal adalah hal-hal yang berada di luar kendali kita, contohnya seperti pendapat orang lain, tanggapan orang lain serta penilaian orang lain.

Sumber: shutterstock.com

Apabila kita melakukan sebuah aksi, maka orang lain dapat pula melakukan sebuah reaksi atas aksi kita.

Masalahnya, banyak muda – mudi seringkali menaruh faktor kebahagiaan pada ‘dimensi eksternal’, yang mana sebenarnya hal itu tidak bisa dikontrol sama sekali.  Maka dari itu, Stoikisme hadir untuk menyadarkan kita, bahwa faktor kebahagiaan dan kepuasan itu bisa dipindahkan dari ‘dimensi eksternal’ ke ‘dimensi internal’.

Sudah paham? Belum? Oke, contohnya gini, deh,

Bayangin lo adalah seorang sutradara film. Nah, cerita dari film itu, penyajian film itu, sampai bagaimana bentuk film tersebut ketika sudah selesai dan tayang adalah dibawah kendali lo, karena lo yang menyutradarainya.

Tetapi ketika film itu sudah tayang dan orang berkomentar tentang film itu, entah memuji atau mencaci, itu semua sudah di luar kendali lo.

Ketika lo menaruh kebahagiaan dan kepuasan lo pada ‘dimensi eksternal’, artinya lo baru merasakan kebahagiaan dan kepuasan ketika lo mendapat komentar yang bagus. Sehingga, sangat besar kemungkinan lo gak akan mendapat kepuasan dan kebahagiaan yang lo kehendaki.

Tapi, ketika faktor kebahagiaan dan kepuasan itu lo taruh di ‘dimensi internal’, maka bahagia lo adalah kalau film itu tercipta sesuai dengan apa yang lo rencanakan dari awal. Sehingga lo akan lebih damai dan tenang dalam menghadapi respons dan tanggapan apapun dari orang lain. Itu semua terjadi karena rasa puas lo terbentuk ketika film itu terwujud sesuai dengan apa yang lo bayangkan.

Stoikisme juga mengajarkan kita untuk bersikap rasional dan merespons semua hal dengan rasionalitas. Artinya, ketika kita mau melakukan sesuatu atau mengucapkan sesuatu, kita sudah lebih dulu berpikir ‘apa sih kemungkinan terburuk yang akan terjadi ketika kita melakukan hal tersebut?’. Dengan kita sudah lebih dulu membayangkan segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi, maka kita akan lebih siap untuk menerima dan lebih siap untuk move on. Sehingga, kita gak akan terpuruk lama dan hancur terlalu dalam.

Misalnya, lo punya gebetan dan lo berencana akan nembak gebetan lo. Sebelum lo nembak dia, kalkulasikanlah kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Berandailah ketika lo nembak dia, lo akan gagal dan ditolak.

Lantas pikirkanlah apa yang akan lo lakukan setelah lo ditolak. Mungkin lo akan sedih dan setelah itu lo akan melanjutkan hidup dan mencari yang lebih cocok dengan lo. Nah, ketika semua itu sudah lo kalkulasikan, lo akan sampai dikesimpulan bahwa ‘Oke gue akan nembak dia, walaupun resikonya gagal’. Sehingga ketika lo beneran nembak dia dan hasilnya ternyata emang lo ditolak, mungkin lo akan sedih atau kecewa, tapi itu gak akan bertahan lama karena realita yang terjadi itu sesuai dengan ekspektasi lo. Tapiiii ketika lo nembak gebetan lo dan lo diterima, rasa kebahagiaan lo akan terasa teramplify dan lo akan merasa lebih bahagia dari pada lo berekspektasi bahwa dari awal lo akan diterima. Intinya? Lakukanlah yang terbaik dan selalu bersiap akan hal yang terburuk.

Gimana? Tertarik untuk belajar jadi seorang stoik?

 

Penulis: Nathanael Chandra

Thumbnail: Grid.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *