RAGAM

Air Terjun Tiwasna

Kelompok tersebut berisikan 4 mahasiswa dan 3 mahasiswi, yang bernama Adi, Budi, Cahyadi, Dodi, Ester, Farla,dan Gigi. Adi merencanakan ingin berlibur ke Bali, namun teman-teman yang lain tidak setuju dikarenakan hal teresbut sudah mejadi hal yang biasa. Oleh karena itu, anak-anak mencari-cari di internet tempat liburan yang enak dan murah.

Lalu sautlah Ester, “eh kita ke Pulau Eureup yuk, kata di website ini pulaunya bagus sama meneggangkan. Ini deh, gua kasih linknya biar lu pada baca.” Setelah anak-anak tersebut membaca sautlah Dodi “eh jangan, jir ini pulaunya katanya serem sama katanya ada air terjun angker males gw kalau pergi ke pulau yang serem kayak gitu” Lalu Dodi dibalas Cahyadi “ ahhh, pengecut lu dasar gak punya nyali” setelah berdiskusi cukup lama akhirnya anak-anak tersebut menyimpulkan untuk pergi berlibur ke Pulau Eureup. Pulau itu sangat indah dan memiliki nilai pariwisata yang tinggi.

Lalu sesampainya di sana, Farla diberitahu oleh para tetua di pulau tersebut ada satu tempat yang tidak diperbolehkan untuk mengujungi ataupun bermain disana. Ada sebuah air terjun yang sangat tinggi dan sangat indah. Nama ait terjun tersebut Air Terjun Tiwasna, Mengapa air terjun itu disebut air terjun Tiwasna? Dikarenakan dari cerita-cerita warga lokal, air terjun tersebut merupakan tempat berkumpulnya para makhluk halus, dan banyak sekali korban dari warga lokal maupun turis jika bermain atau mandi di air terjun tersebut. Farla pun ketakukan dikarenakan tetua tersebut meceritakan dengan nada yang seram dan hawa yang mendukung.

Setelah anak-anak tersebut membereskan barang-barangnya di dalam sebuah kamar yang besar, anak-anak tersebut lalu bermain dan berpesta secara riang gembira. Setelah itu Cahyadi datang dan berkata “eh, katanya di sini ada air terjun yang angker, cuy kesana kuy”, sautlah Dodi “ehhh, jangan, jir kata warga lokal kita gak boleh ke sana, sakral, cuy” diledeklah Dodi karena dibilang penakut, Farla pun hanya berdiam saja dan tidak berkata apa-apa.

Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya mereka semua memutuskan untuk ke air terjun tersebut. Anak-anak bermain dan mandi di air terjun tersebut, padahal oleh para tetua sudah dilarang, Dodi dan Farla pun tidak mengikuti dan hanya melihat anak-anak bermain. Langit pun mulai gelap, anak-anak tersebut sudah mulai lelah dan ingin pulang dan mereka melihat Dodi dan Farla sudah tidak ada di tempat yang tadi. Sejak saat itu sebenarnya Dodi dan Farla sedang meminta bantuan bahwa teman-temannya hilang dan sudah tidak ada sejak tadi siang.

 

Penulis: Yohannes Beethoven

Thumbnail: beritadaerah.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *