OPINI

Inilah Mereka Si Penegak Keadila- MORAL!

Belakangan ini sedang berjalan kasus viral tentang polisi memanggil Marshel Widianto ke Polda Metro Jaya terkait pembelian konten dewasa Dea OnlyFans yang disimpan di dalam Google Drive, sebanyak 76 konten. Marshel Widianto sangat santai dalam menghadapi masalah tersebut, setelah diperiksa, ia terlihat tersenyum dan mengajak foto bersama kepada orang-orang yang sedang menunggunya. Memang seharusnya ia santai, untuk apa Marshel harus gugup ketika ia menjadi tumbal publik? Bagaimana dengan orang lain yang membeli konten Dea OnlyFans?

Penyebaran dan transaksi jual-beli konten dewasa memang diatur dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi, serta dijelaskan dengan jelas dalam Pasal 4. Namun yang saya bingungkan, kenapa hanya Marshel Widianto? Pihak kepolisian memakai komedian ternama dan sedang naik daun hanya untuk memeriksa apakah dia menyebarkan konten tersebut atau tidak. Masalahnya konten Dea OnlyFans disebarkan oleh dirinya sendiri ke dalam platform media masa, tidak hanya Marshel Widianto saja yang membeli konten tersebut. Kenapa pihak kepolisian tak mencari data pembelian konten dewasa oleh anak dibawah umur saja?

Berita tersebut tentu menjadi sorotan besar media, “orang dewasa dibeli orang dewasa dan tidak disebar kembali, terus kenapa?” ujar Kiki Saputri dalam intagram story-nya. Selain itu Bintang Emon juga membalas kasus tersebut lewat konten sarkastik terbarunya, terlihat ia memerankan sosok penegak hukum yang kaget ketika masalah transaksi konten dewasa disebutkan.

Menurut saya pihak kepolisian terlalu tanggap dalam mengatasi kasus Marshel Widianto dibandingkan kasus korupsi, minyak goreng menjadi langka dan gorden anggota DPR senilai Rp 43,5 Miliar, seakan-akan kasus yang tidak terlalu penting mengalihkan kasus yang sedang menyusahkan masyarakat. Kenapa pihak kepolisian lebih mementingkan kasus yang tidak penting Marshel Widianto ditengah kepanikan masyarakat Indonesia, dimana harga PPN naik, harga minyak goreng juga naik menjelang bulan suci. Bagaimana skala prioritas penaganan dari kepolisian sehingga media terlalu membesar-besarkan kasus seperti ini? Apakah ini hanya sekadar pengalihan publik? Seakan-akan kepolisian menjadi penegak moral bukan penegak hukum.

 

Penulis: Gregorius Jeremiah Sinyo Roong

Thumbnail: ayo.semarang.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *