OPINI

Fashion Tidak Mengenal Gender

Di saat jam istirahat kampus, kamu membuka ponsel dan ibu jarimu mengetuk Instagram, sembari membunuh waktu, dirimu yang ngescroll timeline dengan damai tiba-tiba melihat postingan seorang figur publik pria, anggaplah dia Harry Styles. Bukan postingan foto yang biasa-biasa saja, di situ Harry Styles terpampang mengenakan rok dan dress sehingga cukup untuk menyita perhatianmu.

Kira-kira begitulah gambaran perkembangan fashion pada zaman modern ini. Ada yang mengatakan bahwa fashion masih terpatron oleh budaya-budaya tertentu atau fashion kerap dibatasi oleh adanya konstruksi sosial gender yang membagi antara busana laki-laki dan perempuan.

Dua Lipa
Sumber: kompas.com

Pada masyarakat, sebuah gender dibentuk dari hasil konstruksi secara sosial, termasuk di dalamnya ‘diatur’ mengenai cara perempuan harus bertindak dan berpakaian, serta bagaimana seorang ‘laki-laki’ harus berperilaku. Kehadiran genderless fashion membuat setiap orang memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dirinya pada busana yang mereka kenakan.

Kini, stigma mengenai berbusana feminin dan maskulin pun semakin bergeser, sehingga laki-laki maupun perempuan bebas mengenakan jenis pakaian apapun. Lebih lanjut, ini bukanlah hasil adaptasi seorang atau segelintir desainer dan merek untuk membuat pakaian dengan potongan unisex, namun makna dari genderless fashion sendiri merupakan untuk memberikan seseorang kebebasan untuk memilih jenis pakaian yang ingin dikenakan.

Oslo Ibrahim
Sumber: Pop Hari Ini

Akan tetapi, yang disayangkan adalah ketika seseorang, terutama laki-laki ingin mengekspresikan dirinya dalam berbusana justru terhalang karena tekanan dari orang-orang yang menganggap bahwa gaya berbusananya tidak sesuai dengan ‘gender’ mereka. Cemooh sampai perundungan bukan tidak mungkin terjadi apabila hal ia terus dibiarkan.

Memang, berpendapat terkait pakaian seseorang merupakan bagian dari kebebasan, tetapi bukankah berbusana sesuai dengan apa yang orang itu inginkan selagi tidak merugikan orang lain juga merupakan bagian dari kebebasan itu sendiri? Atau apakah maskulinitas kalian serapuh itu sehingga kalian memaksa jika seorang laki-laki haruslah ‘terlihat’ macho?

 

Penulis: Nathanael Candra

Thumbnail: Hilltop Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *