RAGAM

Gila

Sudah merah matanya. Kepalanya mulai berdenyut sakit– sakit sekali. Terisak-isak menatap kedua mata di hadapannya. “Selama ini yang kamu kasih itu pura-pura? Tapi sekarang aku ngerasain sakitnya ini gak pura-pura. Segampang itu, ya buat kamu ternyata?”

Tangisan yang seperti tidak ada hari esok untuk meluapkan sakit hatinya.

“Tapi kamu sengaja ngelakuin ini ke aku, itu yang bikin aku susah buat tidur, fakta bahwa kamu ngelakuin ini semua dengan sengaja bikin aku susah untuk tidur!”

Teriakan frustasi dan juga hantaman di dada yang bertubi-tubi.

sepersekian detik tangisnya sudah tidak terisak, mengalihkan pandangan ke bawah, memandang lantai yang dingin, kemudian tersenyum.

“aku gak pernah nyesel ketemu kamu, you are my beautiful tragedy, kamu itu luka sekaligus penyembuh luka aku, ada kamu aku sakit, gak ada kamu aku juga sakit.”

Angin pendingin ruangan membelai wajah lelahnya, mengeringkan sisa air mata yang mengalir di pipinya.

“Salah ya aku sayang sama kamu? Salah ya aku jadiin kamu rumah aku? Katanya kamu pengen jadi orang baik, ninggalin aku gitu aja bukan perilaku baik”

Perempuan itu mengangkat pandangannya kembali ke arah dua bola mata di hadapannya. Mempertanyakan perihal menjadikan manusia sebagai rumah, perihal manusia yang tiba-tiba berubah.

Ungkapan manusia yang seperti rumah.

Nyaman hingga merasa aman. Atap pelindung dari dunia yang mendung, tapi lupa akan logika dasar, bahwa rumah bisa runtuh karna tanah yang bergemuruh. Manusia yang diharap bisa menjadi rumah lalu mengeluh jika dia berubah.

Lawan bicaranya tetap hening, belum ada satu patah kata yang menjawab pertanyaan perempuan itu. Emosinya meluap, air matanya kini kembali bercucuran.

“Jangan bilang perasaan aku ini bukan tanggung jawab kamu, sedangkan kamu awal penyebab perasaan ini!”  Teriakan yang bersamaan dengan lemparan botol kaca pada objek di hadapannya, meluapkan emosi menjadi suara pecahan kaca bertemu dengan kaca.

Retak sudah bola mata di hadapannya, retak sudah lawan bicaranya. Terdengar kembali suara dari dada yang bertubi-tubi dihantam oleh tangannya sendiri.

god knows i truly did my best for your happiness, but you truly did your best for my sadness!”

Kini gelas kaca menjadi korban selanjutnya yang menciptakan suara hancurnya kaca menjadi serpihan, sama hancurnya dengan hati yang ditinggal tanpa kesiapan.

Sedikit lagi dia bisa gila, menjadikan cermin sebagai lawan bicara dan kini lawan bicaranya sudah bertebaran, hanya meninggalkan sedikit ruang untuk pantulan bayangan perempuan yang tidak bisa menerima keadaan yang telah berubah.

Hanya cermin yang menjadi lawan bicaranya, memaki pada objek pemberi luka sesungguhnya juga percuma, kabar terakhir ia telah bahagia dengan pilihan barunya.

Hari sudah semakin larut, kepalanya semakin berdenyut, kegiatan patah hati malam ini harus disudahi. Dengan gontai menuju ranjang dan langkah kaki yang hati-hati agar tidak terpijak serpihan hasil luapan emosi dari aktivitas yang rutin ini.

Menaiki ranjang, menarik napas panjang dan membaringkan badan.

“Sayang ya, masih muda udah gila”

“Iya. Dulu kata keluarganya dia suka pecah-pecahin kaca,” ucap dua perawat yang sedang berjaga.

Penulis: Laras Dinda

Thumbnail: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *