OPINI

Ganja Medis di Indonesia, Sekedar Mimpi?

Baru-baru ini kabar mengejutkan datang dari Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang meminta MUI untuk membuatkan Fatwa mengenai penggunaan ganja untuk keperluan medis. Hal ini mengundang banyak pro dan kontra dari berbagai pihak, karena yang diketahui oleh publik adalah bahwa ganja merupakan narkotika yang berbahaya. Wakil ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad juga menyebutkan akan mengkaji wacana legalisasi gaja untuk keperluan medis. Di Indonesia sendiri, ganja merupakan narkotika golongan 1, golongan tertinggi narkotika yang penggunaannya dilarang pada Undang-undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, sehingga tidak dimungkinkannya penggunaan ganja sebagai alternatif pengobatan medis.

Respon-respon tersebut timbul akibat menumpuknya permintaan publik mengenai penggunaan ganja untuk keperluan medis yang memang terbukti telah digunakan banyak negara dengan banyaknya penelitian medis yang mendukung penggunaan ganja khususnya untuk keperluan medis. Yang paling mencolok belakangan ini adalah seruan aksi seorang ibu bernama Santi Warastuti pada car free day. Santi sendiri merupakan orang tua dari anak yang mengidap penyakit Cerebral Palsy, sebuah penyakit kelumpuhan otak yang disebabkan oleh gangguan perkembangan otak pada anak, pada kasus paling parah, penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan tubuh secara total.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Wolfson Medical Center di Tel Aviv, Israel menemukan bahwa ganja terbukti dapat mereduksi gejala-gejala pada penderita Cerebral Palsy dan juga meningkatkan aktivitas motorik, serta membantu tidur dan juga mood pada anak-anak penderita. Luba Blumkin, Neuorolog pimpinan studi tersebut menyatakan bahwa mereka telah melakukan studi terhadap kasus-kasus terberat Cerebral Palsy.

Sumber: populis.id

Lingkar Ganja Nusantara (LGN) sebuah organisasi yang terus mengupayakan perubahan status hukum ganja pada Undang-undang No. 35 Tahun 2009, telah menjadi bahu sandaran keluarga dan para pengidap penyakit yang membutuhkan penggunaan ganja sebagai pengobatan medis. LGN mejadi lini terdepan perjuangan legalisasi ganja di Indonesia sejak 2010. Nyatanya, ibu Santi Warastuti bukan satu-satunya orang tua yang memperjuangkan penggunaan ganja untuk keperluan medis, masih banyak tangisan dan perjuangan orang tua-orang tua dan keluarga-keluarga lain yang menginginkan suaranya didengar karena ingin anaknya sembuh dan sehat.

Sumber: safetyandhealthmagazine.com

Bukti-bukti nyata efektifitas penggunaan ganja dalam keperluan medis di banyak negara, yang bahkan negara tetangga terdekat seperti Thailand, yang baru saja merdeka dalam penggunaan ganja demi kebutuhan medis (bahkan rekreasi) seharusnya menjadi sebuah cermin ratapan bagi Indonesia. Ketakutan penyalahgunaan bukan lagi menjadi sebuah argumen yang kuat di era tangisan orang tua-orang tua yang hanya ingin anaknya sembuh dan sehat seperti anak-anak lainnya. Kejahatan penyalahgunaan dan kesehatan masyarakat tidak dapat dimasukkan dalam dimensi yang sama, ranah kriminal dalam hubungannya dengan ganja dapat dicegah dan diregulasi. Jika ingin menggunakan logika sederhana, wong sudah dilarang ketat oleh undang-undang saja masih banyak kasus penyalahgunaan ganja di Indonesia, saya yakin bahwa penanganan negara dan kepolisian serta BNN dalam memangkas penyalahgunaan ganja sudah sangat baik, kenapa harus takut dengan anak pengidap Cerebral Palsy yang butuh menggunakan ganja untuk dapat tersenyum melakukan kegiatan sehari-hari?

Dengan regulasi dan pelaksanaan yang tepat, seharusnya ketakutan-ketakutan tersebut dapat diminimalisir sehingga pelaksanaan pencegahan penyalahgunaan dapat berjalan berdampingan dengan kesehatan masyarakat. Tidak adil rasanya jika rasa takut yang dapat dicegah dan ditindak membayang-bayangi keinginan dan harapan orang untuk sembuh.

 

Penulis: George Yoel Leonard

Thumbnail: freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *