Dilema Kesempatan Kedua

March 30, 2022
adminviaduct

Apa yang lebih bijaksana dari memaafkan? Bagiku adalah memberikan kesempatan kedua. Kesempatan bagi mereka yang meninggalkan rasa benci yang mengalir dalam darah, memberikan kesempatan untuk menjernihkan darah itu atas dendam yang hampir dibawa mati. Meminta maaf dan memaafkan adalah perihal yang biasa, namun bagaimana jika permintaan maaf justru mendatangkan buntut akan kesempatan kedua dengan dalih memperbaiki, memulai sekali lagi apa yang dikira tidak akan pernah bisa diberi ruang untuk kembali berinteraksi.

Memberikan kesempatan kedua bagiku bukan sekedar menjadi orang baik, yang memberikan kesempatan untuk menebus segala dosa-dosa seperti Tuhan yang selalu menyisakan belas kasih-Nya. Namun, memberikan kesempatan kedua itu terlalu berisiko, banyak orang enggan memberikan kesempatan, hanya karena faktor ketakutan pada ujung cerita yang sama. Namun muncul pertanyaan mengapa kita harus takut pada jalan cerita dari kesempatan kedua itu, di saat banyak sudut pandang lain atas pemberian kesempatan kedua. Tidak usah mempedulikan bagaimana ujung cerita misalnya, atau tidak usah menanamkan harapan-harapan baru dari kesempatan yang kau berikan.

Satu hal yang pasti dari diri manusia adalah mereka pasti berubah, jika mereka menunjukan perubahannya dalam kesempatan yang diberikan, kita perlu merasa istimewa menjadi manusia yang ia pilih untuk melihat perubahan atas dirinya, jika perubahan dirinya tidak terkesan baik, maka harus ada perubahan dalam menanggapi, seperti yang telah aku sampaikan, tak usah menanam harapan.

Namun aku tidak akan pura-pura menjadi manusia bijaksana perihal memberikan kesempatan kedua. Memberikan kesempatan kedua itu membuang waktu. Apa yang bisa dijadikan alasan paling masuk akal dari memberikan kesempatan kedua? Bagiku tidak ada alasan yang masuk akal selain kita adalah manusia yang baik yang susah mengeluarkan kalimat penolakan. Namun aku juga tidak akan pura-pura menjadi arogan, memberi kesempatan hanya karena rasa “kasihan”, jika dipaksa untuk mengatakan yang sebenarnya, kesempatan kedua itu ada karena manusia adalah makhluk yang baik, susah mengeluarkan kalimat penolakan, dan keinginan untuk kembali berdekatan. Kesampingan saja risiko yang ada, ini kehidupan yang hanya terjadi sekali, selain itu kita ini pengangguran, waktu apa yang terbuang dari memberikan kesempatan kedua yang penuh dilema?

 

Penulis: Laras Dinda

Thumbnail: instagram.com/edreika

Leave a comment