HUT ke-69 Momentum Bangkitnya Film Indonesia

May 15, 2019
adminviaduct

Viaductpress.id – Kalangan milenial merupakan generasi yang tak bisa dipisahkan dari dunia perfilman. Film dijadikan hiburan dan sarana menambah wawasan. Generasi milenial tak memisahkan antara film berdasarkan kisah nyata dan film fiktif, karena keduanya sama-sama menghibur dan menambah pengetahuan.

Dunia film sangat familiar di Indonesia, hal ini karena perfilman yang terus berkembang. Kualitas film yang semakin maju membuat film sangat laris dikonsumsi masyarakat. Dunia perfilman di Indonesia diperingati setiap tanggal 30 Maret. Tepat pada tahun 2019 ‘Hari Film Nasional Indonesia’ menjadi perayaan yang ke-69.

Lahirnya sebuah film di Indonesia ketika pada tanggal 30 Maret 1950, pengambilan gambar pertama kali oleh sutradara Usmar Ismail yang ditayangkan dengan judul film Darah dan Doa bercerita tentang perjalanan prajurit divisi Siliwangi untuk kembali dari Yogyakarta ke Jawa Barat.

Hal ini dijadikan oleh Konferensi Kerja Dewan Film Nasional dan Organisasi Perfilman sebagai Hari Film Indonesia pada tahun 1962. Selain itu, film Darah dan Doa juga menjadi film pertama yang diproduksi oleh perusahaan film milik Indonesia, yaitu Perfini atau Perusahaan film Nasional Indonesia.

Seiring dengan bangkitnya perfilman Indonesia, jumlah bioskop di Indonesia semakin bertambah, salah satunya dibangun bioskop bernama Metropole, yang merupakan bioskop terbesar saat itu.

Karena meningkatnya perfilman di tahun 1964, bioskop di Indonesia jadi berjumlah 700 bangunan. Tetapi, pada tahun 1965 bioskop di Indonesia menurun dan berkurang sampai 350 bioskop. Tahun 1965 hingga awal 1970 dunia perfilman terasa sunyi, tidak ada yang berbeda dari tahun-ke tahun. Hal ini membuat film Indonesia menjadi mati suri atas karya-karya yang telah ditayangkan.

Faktor yang membuat berkurangnya minat masyarakat dan menurunnya angka bioskop di Indonesia disebabkan sudah banyak film dari Amerika Serikat yang masuk memenuhi perfilman di Indonesia, film ini mengandung kebebasan dalam bersenggama yang kurang patut dikonsumsi untuk masyarakat. Akibatnya, pemilik bioskop menutup bioskopnya karena banyak masyarakat yang menentangnya.

Setelah itu, sejak tahun 1965 hingga 1970 film Indonesia sangat sedikit dan bioskop kekurangan film yang akan ditayangkannya, pihak bioskop mengalami kerugian. Pihak bioskop menayangkan lagi film luar negeri, yang tidak hanya film dari Amerika Serikat saja dan lebih memperhatikan kepatutan yang sesuai nilai dan budaya yang ada di Indonesia, lalu perfilman Indonesia menjadi ramai dikunjungi masyarakat lagi.

Tidak bisa dipungkiri, zaman yang semakin berkembang membuat bioskop jatuh bangun untuk merintisnya dan bertahan di era modern ini, dari munculnya stasiun televisi pertama kali yaitu TVRI sampai adanya VCD dan DVD di kalangan masyarakat, membuat bioskop di indonesia menurun drastis dan mengalami kerugian lagi, ditambah dengan adanya pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab membajak film yang seharusnya tayang di bioskop tempat lembaga resmi. Hal ini menyulitkan para pihak bioskop untuk mendapatkan keuntungan dari film-film tersebut.

Pada tahun 1998 film indonesia mengalami perubahan, berkembang pesat setelah masuknya berbagai film di bioskop, seperti film anak-anak. Film ini digemari pada era 90an, yaitu film berjudul Petualangan Sherina yang diperankan oleh Sherina Munaf dan Derby Romero, film ini menceritakan tentang mereka yang harus melarikan diri dari penculikan. Hingga saat ini, perfilman di Indonesia semakin banyak menayangkan film khusus anak-anak, hal ini menjadi penting karena jadi sarana untuk mendidik moral anak bangsa untuk kedepannya.

Jadi film merupakan sarana untuk mendidik seluruh masyarakat, dari yang tua sampai anak-anak. Adanya hari ‘Film Nasional Indonesia’ mengingatkan kita, ternyata sejarah film Indonesia mempunyai banyak cerita, mengalami perubahan setiap tahunnya, dan film dijadikan wadah untuk mengedukasi seluruh masyarakat.

[Penulis : Ida Bagus Ramanda Murti]

Leave a comment