Keluh Kesah Mengemudi

March 15, 2021
adminviaduct
Sumber : detik.com

Siapa sih yang belum pernah ditilang? Pasti hampir semua dari kalian pernah dong mengalami ditilang oleh polisi, entah itu pengendara mobil maupun motor. Mulai dari menginjak garis marka, tertangkap kamera sedang menggunakan handphone saat mengemudi, sampai terkena tilang ganjil genap.

Banyaknya pengendara  nakal menyebabkan angka pelanggaran lalu lintas diIndonesia meningkat. Mulai dari tidak mengenakan helm, melawan arus, menerobos jalur Transjakarta, tidak menyalakan lampu bagi pengguna sepeda motor, melanggar rambu lalu lintas, hingga menerobos lampu merah. Kurangnya kesadaran masyarakat menyebabkan tingkat kecelakaan lalu lintas sangat tinggi. Oleh sebab itu, polisi memberikan sanksi kepada para pengendara yang nakal agar pengendara tersebut kapok dan tidak mengulangi kesalahannya agar tidak membahayakan diri sendiri ataupun pengguna jalan lainnya.

Tapi apakah menggunakan polisi yang berjaga di titik-titik rawan pelanggaran efektif? Mungkin memang ada  di beberapa ruas jalan yang sudah menggunakan teknologi kamera ETLE (Tilang Elektronik) untuk memantau para pengguna kendaraan dan akan dikenakan sanksi apabila tertangkap kamera melakukan pelanggaran, namun belum semua menggunakan teknologi ini. Penggunaan kamera ETLE ini dapat dibilang efektif, mengapa demikian? Karena dengan penggunaan kamera ETLE tidak akan ada lagi oknum polisi yang melakukan pungutan liar, karena semua nya sudah dicatat oleh sistem sehingga tidak dapat melakukan pungutan liar. Penggunaan teknologi ini mampu merekam semua pelanggar sehingga tidak dapat lagi lolos dari sanksi denda. Karena kalau hanya menggunakan polisi yang berjaga banyak pengendara yang lolos dari sanksi pelanggaran karena polisi yang berjaga tidak mampu melihat semua pelanggaran yang terjadi dikarenakan banyaknya kendaraan yang melintas.

Sumber : liputan6.com

Menurut saya, penggunaan polisi yang berjaga sangat lah tidak efektif. Mengapa demikian? Beberapa waktu yang lalu saya terkena tilang didepan kampus AtmaJaya. Saya diberhentikan polisi karena menginjak garis marka dan dikenakan sanksi denda sebesar Rp 500.000,00. Polisi tersebut menjelaskan bahwa baru saja terjadi kecelakaan karna ada pengemudi yang menginjak garis marka, oleh sebab itu menurut saya penggunaan polisi sangat tidak efektif. Mengapa bila baru saja terjadi kecelakaan polisi tidak berjaga di ujung garis marka agar tidak ada pengemudi yang menginjak? Mengapa polisi menjaganya hanya di tengah saja menunggu ada pengemudi ada yang menginjak garis marka? Polisi yang berjaga hanya menunggu ada yang melanggar bukan mencegah ada yang menginjak hal tersebut yang membuat polisi yang betugas menindak pelanggar lalu lintas menjadi tidak efektif.

Polisi yang memberhentikan pengemudi yang melanggar  juga membuat kendaraan di belakang lainnya menjadi tersendat yang menyebabkan kemacetan, sebaiknya semua ruas jalan di Indonesia sudah menggunakan teknologi kamera ETLE, dengan teknologi tersebut tidak akan ada lagi mobil atau motor yang melanggar akan diberhentikan dan menyebabkan kemacetan karena semua pelanggar akan mendapatkan surat tilang elektronik. Kita masih membutuhkan polisi namun hanya di titik-titik yang rawan kecelakaan saja untuk memberikan bantuan apabila terjadi kecelakaan lalu lintas bukan untuk menindak pengemudi yang melanggar.

 

( Penulis : Brian Caesar Novanto )

Sumber Foto : otomotif.kompas.com

 

 

Leave a comment