Melihat Keberpihakan Media Dalam Konflik Agraria

January 19, 2021
adminviaduct

Mengambil tema pembicaraan “Melihat Keberpihakan Media dalam Konflik Agraria”, Webinar yang di adakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Aspirasi pada tanggal 31 Oktober 2020 Melalui aplikasi “ZOOM”. Webinar dihadiri oleh beberapa pihak yang terdiri dari anggota webinar, media partner, dan yang pasti beberapa narasumber terpercaya dalam pembahasan topik agrarian mulai dari dasar-dasar permasalahan agraria di Indonesia, perspektif dari sisi hukum, hingga tanggapan dan peran media dalam konflik agraria.

Seminar terbagi menjadi 2 sesi yaitu sesi 1 tentang diskursus konflik agrarian di Indonesia, dan sesi 2 tenteang menyoal pemberitaan media dalam pemberitaan konflik agrarian. Masing-masing sesi di garap oleh 2 narasumber berdasarkan masing-masing tema pembahasan dan adanya sesi tanya jawab pada setiap sesi.

Sesi 1 diawali oleh Benni Wijaya sebagai pembicara. Benni Wijaya merupakan anggota media kampanye KPA. Pembicara membahas tentang Masalah Pokok Agraria, landasan hukum agraria nasional, krisis agraria Indonesia, juga menyertakan data-data konflik agrarian dari satu Presiden dengan Presiden lannya. Mungkin banyak dari msayarakat yang bahkan belum mengetahui cakupan agraria, agrarian mencakup Perkebunan, Infrastuktur, Properti, Kehutanan, Tambang, Pesisir dan pulau kecil, Pertanian, hingga Fasilitas militer.

Sesi 1 kemudian di lanjutkan oleh pembicara ke 2, Abdul Malik Akdom sebagai Wakil Kepala divisi advokasi LBH Yogyakarta. Pembicara membahas konflik agraria dari segi hukum, mulai dari ruang lingkup Agraria berdasarkan hukum hingga UUPA. Pembicara juga membahas dampak Omnibus Law terhadap sisi pertanahan. Dalam sisi pertanahan, yang akan diubah mencakup pengadaan lahan, perkebunan, perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan, pembentukan bank tanah, perkebunan, system budidaya pertanian, minerba, panas bumi, Kawasan pemukiman, ketenagalistrikan, rumah susun, dan sumber daya air.

Kemudian setelah sesi 1, ada sesi tanya jawab. Tanya jawab dalam sesi 1 di ajukan oleh Luthfi. Setelah selesainya sesi 1 webinar, dilanjut dengan sesi 2 yang membahas tentang bagaimana seharusnya media berpihak dalam konflik agrarian yang dibawakan oleh pembicara 3, Sapariah Saturi, seorang editor dari Mongabay Indonesia. Pembicara membahas Agraria dari sisi Indonesia sebagai negara yang besar dan melimpah dalam segala sektor agrarian tetapi alokasi kepada masyarkat hanya sedikit, tata Kelola yang buruk dan juga penegakan hukum yang lemah mengakibatkan kerusakan lingkungan, deforestasi, kebakaran hutan, maupun sengketa atau konflik lahan dan terjadi pelanggaran HAM.

Pembicara selanjutnya adalah Farid Gaban seorang jurnalis freelance. Pembicara membahas tentang Sembilan elemen Jurnalisme,  juga bagaimana menerapkan elemen-elemen tersebut dalam kaitan konflik agrarian. Ada satu kalimat yang menarik dari pembicara, yaitu “Jurnalisme tidak harus netral, justru harus berpihak. Tapi berpihak pada kebenaran dan yang pada lemah”. Menurut pendapat beliau, kelemahan dalam pemberitaan sekarang salah satunya adalah banyak jurnalis yang tidak komprehensif dan cenderung hanya mencakup permukaan. Dan pembicara juga membahas dampak pemberitaan media dalam konflik agrarian, yang karena hanya dibahas dibagian permukaan, tidak ada dampak dalam perubahan kebijakan. Pembahasan dari Farid Gaban merupakan puncak dari Webinar kali ini.

Menurut Tegar Gempa Nusantara, anggota LPM Aspirasi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta selaku peserta dan panitia, “Sebagai peserta gue cukup ngerti kalua ditanya materi soalnya gue dari jurusan hukum udah belajar tentang hukum agrarian jadinya lebih paham dan ngerti kemana arah pembicaraannya. Terus gue juga dari LPM jadinya lebih mudah memahami materi kedua pembicara yang membahas perna media itu sendiri. Kemudian kesan gue webinar kali ini menarik karena pembahasan tentang konflik agrarian dan dikaitkan dengan media belum pernah gue dapat sepanjang gue jadi mahasiswa, dan pesan gue mungkin kedepannya webinar bisa lebih baik dan mengangkat isu-isu yang kurang di perhatikan di masyarakat tapi sebenarnya penting untuk kita pahami lebih dalam”, ujarnya.

Sebagai panitia, Tegar juga mengungkapkan kesan dan pesan sebagai panitia webinar kali ini, “Gue pribadi merasa cukup puas untuk webinar kemarin, tapi emang gak bisa di pungkiri ada beberapa kekurangan seperti kendala jaringan internet untuk peserta sehinggan ada yang keluar masuk zoom meeting sehingga pemahaman materi jadi kurang maksimal. Selain itu karena waktu yang terbatas ada pertanyaan dari peserta yang tidak bisa dijawab oleh narasumber”.

 

(Penulis: George Yoel Leonard)

Leave a comment