Mengunjungi TKP Pahlawan Revolusi

June 6, 2024
adminviaduct

Selain memamerkan karya-karya seniman berupa lukisan atau produk-produk kerajinan lainnya, museum juga bisa menampilkan cerita tentang kejadian di masa lalu, sehingga berkunjung ke museum bagaikan berjalan melintasi waktu ke masa lalu karena bisa menemukan fakta-fakta sejarah.

Museum Sasmitaloka Ahmad Yani, Museum Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, dan Monumen Pancasila Sakti adalah tiga museum dengan unsur sejarah bak trilogi rangkuman kisah satu malam yang merenggut 7 nyawa.

Dua museum yang berlokasi di Jakarta Pusat adalah Museum Sasmitaloka Ahmad Yani dan Museum Jenderal Besar DR. A.H. Nasution.

Museum Sasmitaloka Ahmad Yani yang berlokasi di Jalan Lembang No. D58, Menteng, Jakarta Pusat, sebelumnya merupakan rumah kediaman Letjen A. Yani. Museum ini memuat foto-foto perjalanan karier militer A. Yani,  foto-foto rekonstruksi penembakan dan penculikan Letjen A. Yani,  hingga foto-foto pengangkatan jenazah para Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya. Selain itu, berbagai tanda jasa, pakaian dinas, kenang-kenangan dari luar negeri juga terpajang rapi dan tampak terpelihara dengan baik. Pada satu ruangan lain terdapat koleksi barang-barang pribadi seperti sepatu, pakaian dinas, bahkan mesin tik, milik pahlawan-pahlawan revolusi lainnya.

Pengunjung diajak masuk (setelah melepaskan alas kaki) melalui pintu belakang, yang merupakan jalan masuk pasukan Cakrabirawa ke dalam rumah untuk membawa Letjen A. Yani bersama mereka.

5 lubang di kaca pintu menuju ruang makan menjadi saksi bisu kejadian tanggal 1 Oktober 1965 pukul 04.35 di rumah itu. Selain itu 2 peluru meninggalkan tanda  lubang pada salah satu pigura lukisan Letjen A. Yani dan dinding rumah. Selanjutnya, menurut Bapak penjaga museum, “Pak Yani diseret oleh pasukan Cakrabirawa, ditarik kedua kakinya, bukan tangan seperti di film.”

Fun Fact: setiap mahasiswa Universitas Jendral Ahmad Yani diwajibkan berkunjung ke museum ini (bergiliran) untuk memenuhi mata kuliah Keahmad Yanian.

Di kediaman Jendral A.H. Nasution di Jalan Teuku Umar No. 40, peluru pasukan Cakrabirawa mengenai putri sang jendral, Ade Irma Suryani Nasution. Beberapa peluru melukai pintu, meja dan dinding rumah, sementara sang jendral berhasil luput dengan melompati tembok dan bersembunyi di kedutaan besar Irak, yang bersebelahan dengan rumah beliau.

Diorama 1:1 pasukan Cakrabirawa, Lettu Pierre Tendean, ibu Johanna (istri Jendral A.H. Nasution), Ade Irma dan Jendral A.H. Nasution sendiri, menjadi ciri khas yang menghiasi Museum Jenderal Besar DR. A.H. Nasution. Dibandingkan dengan koleksi di museum Sasmitaloka A. Yani, tidak terlalu banyak peninggalan Jendral A.H. Nasution yang dipamerkan di museum yang diresmikan Presiden Ke-6 RI Soesilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2008 ini. Akan tetapi, tetap tidak mengurangi esensi sejarahnya.

Tidak dipungut biaya satu rupiah pun untuk berkunjung ke kedua museum ini, namun pengunjung bisa memberikan donasi sukarela pada kotak yang disediakan. Jadi, tunggu apalagi? Yuk ke museum, untuk belajar sejarah gratis!

 

Penulis: Elizabeth Allan

Sumber foto: Dokumentasi pribadi.

Thumbnail: Dokumentasi pribadi

Leave a comment