Merdeka yang Beda

October 1, 2020
adminviaduct

“Apa masih ada yang merdeka?” merupakan sepenggal lirik dari sebuah lagu yang berjudul Dimana Merdeka yang dinyanyikan oleh band rock asal Jakarta, yaitu Kelompok Penerbang Roket. Kalimat yang sebenarnya sederhana, namun dapat menjadi refleksi yang sangat mendalam bagi setiap individu. Pada 17 Agustus 1945 atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia, yang hasilnya bisa kita rasakan hingga saat ini. Namun setelah 75 tahun, apa kita sudah benar-benar merdeka?

Secara kontekstual tentu kita sudah mencapai titik kemerdekaan itu. Setidaknya melalui perjuangan para pendahulu, kita sudah mendapatkan kebebasan-kebebasan yang kita inginkan, salah satunya kebebasan untuk berpikir, memiliki pendapat dan pandangan masing-masing. Namun kebebasan ini juga lah yang akhirnya menjadi permasalahan bak bola salju bagi bangsa ini sendiri.

Dewasa ini semua orang dapat berpendapat, tanpa kita ketahui validitasnya. Semua sudah bisa bebas berpandangan dan bebas menentukan di sisi mana ia berada. Namun seiring kebebasan itu, muncul juga kekangan-kekangan terhadap kebebasan itu. Menganggap pandangannya paling benar, menganggap kebenarannya mutlak, bahkan sampai merendahkan atau menghina orang yang tidak sejalan dengan dirinya. Berlagak hakim yang dapat menghakimi benar atau salahnya seseorang.

Di zaman penjajahan, semua pandangan dan pikiran kita dikekang oleh bangsa asing, tetapi di era reformasi ini kebebasan itu justru dikekang oleh sesama kita. Kita diwajibkan untuk tunduk pada satu suara, kita tidak diperbolehkan untuk bersebrangan, kita dilarang untuk menjadi warna yang berbeda, kita akan dianggap sebagai musuh apabila melakukan itu semua. Hal ini kemudian diperparah ketika tidak lagi beradu argumen secara substantif, tetapi justru menjurus ad hominem, menyerang pribadi, menjatuhkan harkat dan martabat, dan bahkan mencaci memaki orang yang tidak sepandangan.

Ketika cacian dan makian dianggap sebagai kritik, lalu dibungkus dengan “kebebasan berekspresi” dan “kemerdekaan berpendapat” disitulah sebenarnya yang perlu kita renungkan, apakah kemerdekaan seperti ini yang kita inginkan? Bagaimana bisa seseorang berteriak “kebebasan berekspresi” tetapi mendiskreditkan orang yang berbeda pandangan? Bagaimana bisa berteriak “kemerdekaan berpendapat” namun Ketika berbendapat tidak memerdekakan orang lain.

Atau bahkan ketika kita dapat melegalkan tanpa dosa mengumpat atau mengutuki lembaga negara, dengan dalil kritis terhadap pemerintah. Turun kejalan dengan narasi-narasi negatif dibalut dengan dalil “perjuangan”. Apakah perjuangan dengan kekerasan secara verbal yang kita butuhkan? Atau hanya sekedar memuaskan hasrat kebencian terhadap sesuatu yang kita nilai janggal?

Dimana sebenarnya merdeka yang kita inginkan? Tentu hanya kita yang dapat menjawabnya, kemerdekaan itu sudah ada tinggal kita yang menentukan mau memaksimalkan kemerdekaan atau hanya sekedar meratapi ketakutan terhadap besarnya dunia ini, karena menurut John F Kennedy usaha dan keberanian tidak cukup tanpa tujuan dan arah perencanaan.  Yang terpenting adalah jangan pernah lupa untuk memanusiakan manusia, memerdekakan orang lain tanpa terkecuali.

 

(Oleh : Exaudio)

Leave a comment