Positif Dalam Darah dan Kehidupan

June 27, 2024
adminviaduct

Judul : Positif! Nada untuk Asa

Penulis : Ita Sembiring

Penerbit : Sahabat Positif

Tahun Terbit : Cetakan ke-1 2014

Jumlah Halaman : 195 halaman

 

Buku yang berjudul “Positif! Nada untuk Asa” karya Ita Sembiring yang merupakan cetakan pertama tahun 2014, novel ini menjadi best seller yang dicari banyak orang dengan isi cerita yang ternyata terinspirasi dari kisah nyata dua orang perempuan yang berjuang dalam sebuah tragedi ketika Bobby sang suami meninggal dan positif mewariskan penyakit HIV kepada Nada sang istri dan anaknya Asa. Tidak hanya itu Nada dan Asa hidup dalam stigma yang mengerikan dan ditolak orang keluarga dan orang-orang sekitar. Bahkan ketika Nada membutuhkan dukungan sang ayah yang merupakan mantan hakim agung, yang selalu memberikan keadilan seadil-adilnya pada orang yang tertindas tapi justru memvonis anaknya sebelum diadili sehingga Nada harus menerima kenyataan pahit bahwa ayahnya menjauhinya. Buku ini juga menceritakan bagaimana orang yang memiliki pendidikan tinggi berkoar-koar mengatasnamakan martabat akan tetapi tega mengabaikan martabat orang lain.

Semua berawal dari kematian  suami Nada yaitu Bobby membuat Nada terpuruk. Tak hanya itu tragedi menarik Nada dan merenggut masa depannya. Mendapati fakta bahwa Nada dan anak bungsunya Asa terkena HIV yang ditularkan oleh sang suami. Nada pun harus menghadapi dan berjuang menghadapi stigma negatif dari keluarga dan masyarakat yang menjauhinya. Sementara itu disajikan juga bagaimana kisah Asa yang beranjak dewasa, menghadapi perlakuan tidak menyenangkan sejak kecil, sehingga Asa terus berusaha untuk tegar dan berpikir positif. Hal ini yang membuat Wisna aktivis HIV tertarik kepadanya.

Dalam buku memperlihatkan apa yang dialami seseorang yang positif HIV dalam kehidupannya dan stigma yang didapat. Buku ini pun mengajarkan kita bagaimana memanusiakan manusia dan saling toleransi. Kurangnya pengetahuan akan suatu hal menyebabkan minoritas terkucilkan dari masyarakat. Kisah ini sangat mampu membawa kita ikut merasakan kesedihan dan rasa sesak yang dialami Nada yang harus berusaha menerima keadaan, tetapi dalam kisah anaknya Asa terus berusaha menunjukan sikap tegar dan keyakinan untuk hidup. Tidak hanya kesedihan bertubi, tetapi juga berharap akan hidup lebih baik lagi bersama orang yang dikasihinya. Satu kalimat dari buku yang membuat sebagai pembaca tergetar adalah “Orang boleh mengukur usia ODHA, tetapi maut pun tidak sembarang mencabut roh dari jasad sebelum lagi diingininya”.

 

Penulis: Putri Ariska Dinanti

Thumbnail: parokiparung.org

Leave a comment