Pulau Doom : Kepingan Sejarah dan Toleransi Yang Hidup Di Dalamnya

February 26, 2022
adminviaduct

“Keindahan suatu tempat tidak hanya terletak pada pemandangan alamnya saja. Keindahan suatu tempat juga bisa dilihat dari sejarah dan toleransi yang hidup di dalamnya.’’

Jika kita mendengar kata Sorong, tentunya pikiran kita akan langsung tertuju pada Raja Ampat yang banyak disebut sebagai surga dari timur Indonesia. Banyak wisatawan yang berangkat ke Kota Sorong hanya untuk menyeberang ke Raja Ampat guna melihat keindahan alam disana.

Namun ternyata, selain keindahan alam Raja Ampat, Kota Sorong juga menawarkan kita kepingan sejarah yang berjarak kurang lebih 3 KM dari Pelabuhan Kecil Kota Sorong. Kepingan sejarah tersebut terletak di suatu pulau kecil yang apabila kita mengitarinya dengan berjalan kaki hanya butuh waktu kurang lebih 45 menit, pulau tersebut bernama Pulau Doom.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Ketertarikan saya berkunjung ke Pulau Doom awalnya adalah karena cerita seseorang yang saya kenal di Kota Sorong yang menyebutkan di tempat dia tinggal ada lapangan tempat Boaz Solossa sering bermain sepak bola saat masih kecil.

Boaz Solossa dulu bermain di lapangan Pulau Doom Kak. Mengikuti kompetisi, dia menyeberang dari Kota Sorong” ujarnya.

Sebagai seseorang yang sangat mengidolakan Boaz Solossa, saya memutuskan untuk mengunjungi Pulau Doom. Untuk sampai ke Pulau Doom kita perlu menyeberang dari Pelabuhan Kecil Kota Sorong menggunakan Taxi Laut dengan jarak tempuh hanya 15 menit.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sesampainya disana, alih-alih hanya ingin melihat lapangan sepak bola tempat Boaz Solossa kecil bermain, saya malah disuguhkan kepingan-kepingan sejarah di Pulau Doom. Keindahan utama dari Pulau Doom bukan terletak pada pemandangan alamnya, melainkan pada bangunan-bangunan bersejarah dan toleransi yang hidup didalamnya.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sebelum adanya pemerintahan di Kota Sorong seperti saat ini, sejak tahun 1800-an hingga 1935 Pulau Doom dijadikan sebagai Ibu Kota pusat pemerintahan pada jaman Belanda. Hal itulah yang membuat pulau kecil ini meninggalkan cukup banyak bangunan-bangunan bersejarah. Beberapa bangunan peninggalan Belanda di Pulau Doom yang masih ada hingga saat ini diantaranya dermaga, gedung-gedung tempat penyimpanan rempah-rempah, sekolah, hingga tempat ibadah.

Selain bangunan-bangunan peninggalan Belanda, di Pulau Doom juga terdapat Bunker peninggalan Jepang yang dulunya digunakan sebagai tempat persembunyian tentara Jepang dalam peperangan menghadapi Sekutu pada sekitar tahun 1941-1945. Namun kini nasib bunker peninggalan Jepang itu jauh dari kata baik. Coretan, sampah-sampah plastik minuman kemasan, puntung rokok, menjadi penghias salah satu kepingan sejarah di Pulau Doom tersebut.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Saat ini Pulau Doom memang bukan lagi pusat pemerintahan. Namun, sebagai saksi sejarah pendudukan Belanda dan Jepang di Indonesia, keberadaan Pulau Doom tidak boleh kita lupakan dan hilangkan dari catatan sejarah bangsa ini.

Rumah Ibadah, Toleransi, dan Kedamaian

Kepingan sejarah memang selalu menarik, namun tidak kalah menarik melihat kehidupan masyarakat di Pulau Doom di era sekarang ini. Pulau Doom menyimpan suatu keindahan yang mungkin jarang diketahui oleh masyarakat luas. Keindahan itu bernama Toleransi.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Rumah-rumah ibadah berdiri gagah dengan jarak yang tidak terlalu jauh antara satu dan lainnya. Kehidupan umat beragama di pulau ini juga jauh dari gesekan-gesekan tidak penting terkait agama. Kita tidak akan menemukan konflik antar masyarakat mengenai agama mana yang paling benar dan agama mana yang paling berhak melakukan ibadah sehingga menghalangi pemeluk agama yang berbeda untuk beribadah. Di Pulau Doom sendiri mayoritas masyarakatnya memeluk agama Kristiani dan Islam.

Saat umat Islam merayakan Lebaran dan melaksanakan ibadah Sholat Iedul Fitri, umat Kristiani melakukan penjagaan ditempat pelaksanaan Sholat Iedul Fitri. Sebaliknya, saat umat Kristiani sedang merayakan Natal dan melaksanakan ibadah di gereja, giliran umat muslim yang berjaga-jaga agar umat Kristiani dapat melaksanakan ibadahnya dengan tenang.

Disini tidak ada Kak keributan-keributan antar masyarakat terkait agama. Semua disini hidup rukun dan saling jaga.” ujar salah seorang masyarakat Pulau Doom.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Kalimat tersebut, memberikan kedamaian bagi saya yang mendengarnya. Ternyata masih ada toleransi yang tersisa di era yang banyak diisi dengan tindakan pembunuhan atas nama Tuhan masing-masing.

Pada akhirnya, Pulau Doom bagi saya bukan lagi tentang lapangannya yang jadi tempat bermain sepak bola Boaz Solossa sewaktu kecil. Lebih dari itu, Pulau Doom menambah pengetahuan saya tentang sejarah dan menunjukan bahwa toleransi masih ada disekitar kita.

 

 

 

( Penulis : Richard Yosafat )

Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi

Leave a comment