Rintik Hujan

September 23, 2020
adminviaduct

Perlahan rintik hujan turun membasahi langit ibukota Jakarta, sore itu aku menikmati suara tetesan air hujan melalui jendela kamarku. Entah kenapa aku selalu teringat tentang seseorang setiap kali hujan datang. Ya….. seseorang yang pernah mengisi hari-hariku, dan sekarang aku kembali teringat tentangnya.

Jakarta, 14 Desember 2014

“Bianca!!! Kok lo dipanggil gak nyaut sih?” ujar Lina sambil menepuk pundakku, aku terkejut karena sedang focus melihat seseorang dari kejauhan. Lina yang bingung aku tidak menjawab sontak turut memperhatikan siapa yang membuatku tertegun sampai-sampai tidak mengubris panggilannya. “itu Namanya Rian, dia seangkatan sama kita loh, lo mau gue kenalin?” ucap Lina sambil menarik lenganku. Aku sedikit meronta ketika kami berdua perlahan mulai mendekat ke pria yang sempat mengalihkan perhatianku.

“Rian! Kenalin nih Bianca, teman seangkatan kita juga” ucap Lina, Rianpun menoleh dan tersenyum kearahku sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Aku yang terlalu terkejut akan situasi ini hanya bisa diam mematung sampai Lina menyenggolku dan berkata “Bi! Kok bengong sih, itu tangan Rian kasian kesemutan nungguin lo”. Tersadar akan situasi yang memalukan itu aku pun dengan canggung menerima jabatan tangan Rian dan dengan terbata-bata berkata “uhm, ha..a..lo gue Bianca”.

Hari pertamaku di bangku perkuliahkan diawali dengan kejadian yang cukup memalukan untukku, aku terpesona dengan senyum seseorang yang tidak pernah aku duga dan mengisi hari-hariku selama aku dikampus. Setelah perkenalan singkat itu, aku bergegas undur diri dan pergi ke kelas pertamaku. Tak lama setelah aku duduk, aku kembali terpaku atas sosok yang baru saja masuk kedalam kelas dan ia kembali menatapku dan tersenyum kearahku. Seketika duniaku terasa terhenti ketika langkah kaki pria itu semakin mendekat kearahku.

“gue boleh gak duduk disini? Soalnya gue gak kenal siapa siapa selain lo” ucap Rian singkat sambil duduk disebelahku, aku hanya diam dan mengangguk kearahnya. Rianpun akhirnya duduk disebelahku sembari sesekali mengajakku berbincang, namun bodohnya aku terlalu kaku untuk menanggapi obrolan Rian saat itu. Namun entah mengapa aku tidak dapat melupakan momen perkenalanku dengan Rian. Selama dua jam kelas berlangsung, aku tidak bisa fokus dan seringkali menatap Rian yang terlihat serius mendengarkan dosen.

Tak disangka seiring berjalannya waktu aku semakin dekat dengan Rian, aku semakin mengenal sosok yang membuatku terpana di pertemuan pertamaku dengannya. Dan aku menyadari perasaanku sudah begitu besar untuknya, namun aku hanya dapat memendam rasa ini, karena aku mengetahui bahwa aku dan dirinya tidak mungkin bisa menjadi satu.

“bi ke kantin yuk makan, habis ini lo ada mata kuliah apa? Kalo ga ada temenin gue mau gak” tanya Rian sambil menoleh ke arahku, “ke kantin berdua? Habis ini gue ga ada kelas sih, emang mau ditemenin kemana?”. Rian pun hanya tersenyum sambil menarik tanganku dan berjalan menuju taman kampus.

Entah kenapa setiap aku sedang menghabiskan waktu berdua dengan Rian, awan gelap mulai menyelimuti langit dan menghalangi sinar matahari. Seperti sore ini lagi dan lagi kami berdua terjebak derasnya hujan yang membasahi langit ibukota Jakarta. Dengan segera kami berdua mencari tempar untuk berteduh, dan lagi-lagi gazebo taman kampus menjadi tempat aku dan Rian berteduh sembari menunggu hujan reda.

“bi gue rasanya makin serius sama Lina, gue ingin nikahin dia segera setelah gue lulus” ucap Rian sambil menatapku, aku dapat melihat keseriusan dari ekspresi Rian menatapku. Ya, Lina sahabatku adalah perempuan yang telah menjadi kekasih Rian. Hatiku terasa sakit mendengar ucapan Rian. Namun aku hanya tersenyum seraya berkata “iya Rian, lo harus bahagiain Lina ya, gue sebagai sahabat kalian berdua pasti support apapun keputusan lo berdua”.

Tibalah waktu kelulusanku, Rian, dan Lina. Dapat kulihat dengan mata kepalaku sendiri Rian melamar Lina setelah wisuda berlangsung, selama empat tahun aku mengenal Rian aku belum pernah melihat ia tersenyum yang begitu bahagianya. dan aku akan terus memendam perasaanku, serta mengubur dalam-dalam rasa yang muncul sejak pertama kali aku melihatnya.

Dan lagi-lagi, rintik hujan turun ketika aku melihat ia tersenyum dengan indahnya.

(Oleh : Wulan Nurasih Dian Putri)

Leave a comment