Rumah Boneka

May 4, 2021
adminviaduct

‘krrrrrrriitttt…..’

Suara yang terdengar seperti pintu kayu mengayun membangunkan diriku dari tidur nyenyakku. Beberapa hari ini, suara angker itu sering terdengar apalagi disaat fajar membentang dan kedua orangtuaku terlelap. Oh! Sepertinya aku belum memperkenalkan namaku.  Hai, namaku Karina dan aku tinggal dengan kedua orangtuaku di sebuah rumah kecil di antah berantah. Jujur, aku penasaran dengan apa yang ada di luar rumahku, tetapi satu-satunya peraturan yang kedua orangtuaku berikan adalah untuk tidak menginjakkan kaki keluar dari pintu kayu yang sering berayun malam-malam itu. Aku bahkan tidak yakin apakah orangtuaku pernah melangkah keluar dari rumah ini. Mungkin, mereka telah tinggal seumur hidupnya di rumah ini. Sedangkan aku, aku telah tumbuh besar diantara dinding-dinding rumah selalu bertanya-tanya apa yang tampak di luar rumahku ini. Dengan bertambahnya umurku, rasa ingin tahu ku pun semakin tinggi. Sehingga kita tiba pada hari ini, 15 maret 1620.

Seperti biasa, hari-hari aku lalui dengan bermain boneka di dalam kamarku yang bisa terbilang lumayan luas. Dan seperti biasanya, ayah melewati harinya dengan mengasah kayu menjadi patung kuda yang sangat indah dan ibu dengan memanggang segala jenis kue yang ada di buku masak yang selalu terletak di meja dapur rumah ku. Melihat kedua orangtuaku keduanya sedang sibuk, aku berlari ke pintu belakang yang tidak pernah dibuka oleh ayah maupun ibu. Ayah selalu bilang kepadaku

Karina, jangan pernah kau memegang apalagi membuka pintu belakang ini. Apapun yang kau lakukan, jangan membuka pintu ini. Ayah melarangnya!” menggema suara ayah dibenakku.

Tetapi rasa penasaranku menaklukkan segala bentuk pikiran jernihku dan akupun membuka pintu itu. Beda dengan rumahku yang selalu terlihat agak tua dan remang-remang, pintu yang baru aku buka mengarah kepada ruangan yang terang dan indah. Terlihat dapur yang penuh dengan piring-piring indah dan lemari-lemari yang sepertinya terhubung dengan sebuah kabel? Anehnya, lemari itu bisa menyala. Hari itulah aku bertemu dengan temanku Lala. Lala tingginya sama denganku dengan mata hitam dan rambut merah dari benang sama sepertiku. Aku sangat senang akhirnya bertemu teman baru tetapi mengapa Lala terlihat sangat ketakutan? Mungkin dia pemalu? Seketika, Lala mendorongku masuk kedalam lemari kayu besar dan menutup kedua pintunya.

Dan saat itulah aku mengerti kenapa orangtuaku tidak pernah keluar dari rumah.

Dunia berguncang keras dan tangan-tangan besar menarik Lala dari tempatnya didepan lemari kayu dan melempar Lala keluar dari rumah. Makhluk-makhluk besar itu memaksakan Lala kedalam berpuluh-puluh gaun dan memainkan Lala seolah-olah dia boneka. Tangan-tangan besar itu menggerakkan Lala untuk menari-nari hingga pada akhirnya menyeretnya keluar pintu raksasa dan dunia berguncang sekali lagi. Raksasa itu mengembalikan Lala ke kamarnya. Rambutnya sedikit berantakan dan tangan kirinya terlihat sedikit tercabik-cabik. Lala menengkanku dan menjawab beberapa pertanyaanku sambal menjahit tangannya kembali. Raksasa itu tidak kembali lagi selama beberapa jam dan aku kembali ke rumahku dan berlari ke kamarku takut makhluk itu akan menarik diriku selanjutnya.

Aku berpikir, aku tidak keberatan tinggal di rumah ini selama sisa hidupku.

 

( Penulis : Anabelle Suhaidi ) 

Sumber Foto : wikipedia.com

Leave a comment