Surat untuk Dikirim Fajar Nanti

January 17, 2023
adminviaduct

Dila nama panggilanku, sedikit tentangku, aku tidak begitu berhubungan baik dengan isi kepala ku sendiri, kita kerap bertengkar dan aku pernah hampir menjadi gila karenanya. Selain itu, aku selalu menyediakan kertas berukuran A4, kertas-kertas itu hanya aku gunakan untuk tiga hal, untuk menulis not piano lagu yang ingin ku mainkan, untuk menggambar, dan untuk menuliskan surat.

Akhir-akhir ini aku tengah sering bersitegang dengan kepalaku. Aku sudah mencoba bermain piano namun aku tetap merasa buruk, gambar-gambar ku tidak membantu, opsi terakhir yang kini akan ku lakukan adalah menulis surat. Menulis surat untuk kepalaku? Tidak. Aku akan menulis surat untuk sosok penyebab aku dan kepalaku bersitegang, dengan tangan bergetar aku gores putihnya dengan hitamnya.

 

Yang tersayang,

Dosa yang mungkin Tuhan maafkan

 

Begitu cepat siang berganti malam, seraya begitu cepat pula kau tumpahkan suka dalam hidupku. Namun, kini aku sedang di penghujung jurang jatuh ke dalam duka menerka-nerka apakah kini sudah lelah kau menyuguhi cinta untukku.

 

Aku masih di sini, atau setidaknya kemarin kau pernah memintaku berjanji untuk tidak pergi. Aku tidak pergi, kau pun juga tidak, tapi kita seperti dua orang yang berdiam diri termakan janji. Rasanya baru kemarin selepas kau melukis senyum di bibir ku. Kerap senyum itu merekah dengan bercak dosa yang memekarkannya.

Anehnya, dosa itu layaknya dikirimkan oleh Tuhan. Dia mengirimkannya dalam bentuk dirimu, wangimu, dan tatapan matamu lalu dihidangkan di depanku. Suatu pengabulan dari doa untuk memohon tidak merasa dinginnya hutan rimba tidak berujung yang ku lewati.

Kau mengangkat ku dari semak belukar, membersihkanku dari kumuhnya tanah, keringat, dan darah yang menutupi tubuhku, meyakinkanku bahwa aku masih layak untuk dibahagiakan. Bersorak riang ruh dalam tubuhku saat kau mengatakan “sayang, kau harus di perlakukan seperti tuan putri”. Namun kini aku terdiam, kini tuan putri yang kau bentuk sedang merasa kesepian. Lantas ini kah tuan puteri yang kau maksud? Dibiarkan terdiam, dibiarkan kesepian, dibiarkan ditemani oleh kehampaan.

Aku rindu pada saat pertama kali kau melihatku layaknya intan paling berkilau di tanah pertambangan. Kini aku hanya sebagai pajangan, mungkin masih yang paling berkilau tapi seperti tak berarti lagi untuk kau.

Mungkin akan lebih mudah jika aku langsung menanyakan padamu masihkah aku intan kebanggaanmu? Namun, aku takut untuk mendengar jawaban yang mungkin saja akan menggoresku. Maka kini aku dan kepalaku sedang bersitegang mencari rumus lain untuk mencari jawabmu, apa aku kini telah kau biarkan berdebu? Apa kau lupa harus rutin membersihkanku? atau ini ternyata saatnya aku berlabuh pada tangan yang lain?

Yang tersayang, dosa yang mungkin Tuhan maafkan, jika aku tidak bisa lagi meminta waktumu, maka setidaknya berikan jawaban atas sikap mu.

 

Aku,

Intan yang kilaunya masih untukmu.

 

Tetes air mataku akan menjadi cap penutup surat yang akan ku kirimkan fajar besok, fajar lusa, atau suatu fajar nanti sembari menyiasati sikapmu.

 

Penulis: Laras Dinda

Thumbnail: Pinterest

Leave a comment