Tenggelamnya Kota Jakarta

March 24, 2021
adminviaduct

Tahun 2050 Jakarta dikabarkan akan tenggelam, hal ini bukan hanya isu belaka saja dan harus ditangani dengan serius. Menurut data dari World Economic Forum, Jakarta masuk dalam jajaran 11 kota yang terancam tenggelam. Banyak hal yang menyebabkan tenggelamnya kota Jakarta. Sejak tahun 1970 an, sebagian wilayah Jakarta tenggelam lebih dari empat meter, dengan kecepatan hingga 25 sentimeter per tahun. Artinya kawasan ini tenggelam lebih cepat dibandingkan kota-kota lainnya di dunia. Berikut beberapa penyebab tenggelamnya Kota Jakarta

  • Pencairan es di Antartika

Pemanasan global yang semakin kian parah mengakibatkan mencairnya es di antartika. Dikutip dari CNN Indonesia, Bumi secara keseluruhan telah kehilangan 28 triliun ton es di kutub antara tahun 1994 dan tahun 2017. Namun studi mencatat, sejak tahun 1990 Bumi hanya kehilangan sekitar 800 miliar metrik ton es dari setiap tahunnya. Hilangnya lapisan es merupakan penyumbang naiknya permukaan laut secara global. Sebuah studi baru memperkirakan telah terjadi kenaikan permukaan permukaan laut sebanyak 34 milimeter sejak tahun 1994. Dalam studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Letters, menemukan bahwa suhu rata-rata dunia meningkat hingga 4 derajat celcius. Jika suhu global meningkat lagi hingga 6-9 derajat celcius dalam waktu yang berkelanjutan maka dapat diprediksi lebih dari 70% es di antartika akan mencair secara permanen. Menanggapi hal tersebut, dibuatlah Kesepakatan Iklim Paris pada tahun 2015 yang mulai berlaku sejak 4 November 2016. Point utama dari kesepakatan ini adalah menjaga ambang batas suhu bumi di bawah dua derajat Celcius dan berupaya menekan hingga 1.5 derajat celcius. Hingga saat ini sudah ada 200 negara yang setuju dengan kesepakatan ini. Pada tanggal 4 November 2020 Amerika Serikat mengundurkan diri dari kesepakatan tersebut atas perintah Presiden Donald Trump. Namun pada tanggal 19 Februari 2021 Amerika Serikat secara resmi bergabung kembali ke dalam Kesepakatan Iklim Paris.

  • Kurangnya titik resapan air

Pembangunan gedung-gedung, tempat tinggal, fasilitas penunjang aktivitas, jalanĀ  dan lain nilai yang masiv di Kota Jakarta berakibat pada kurangnya titik-titik resapan air karena semuanya telah tertutupi oleh beton dan aspal. Semakin sedikitnya titik resapan air maka, semakin besar peluang Jakarta dilanda banjir. Pertengahan 2018 pemerintah Jakarta melakukan inspeksi gedung-gedung di daerah sekitaran Jalan Sudirman dan Thamrin. Ditemukan dari total 80 gedung, terdapat 37 gedung belum memiliki sumur resapan, atau sumur resapannya tidak berfungsi. Menanggapi hal tersebut, Gubernur Jakarta saat ini Pak Anies Baswedan berencana untuk membangun 1,8 juta sumur resapan di seluruh Jakarta, kecuali Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu, yang ia tuangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2017-2022. Namun kenyataannya per desember 2020 Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta mengklaim baru berhasil membuat 2.974 titik sumur resapan.

Penggunaan air ledeng

Jumlah penduduk di indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Menurut data BPS (Badan Statistik Jakarta) jumlah penduduk Jakarta sudah mencapai 10 juta lebih orang meskipun laju pertumbuhan penduduk cenderung menurun.

Sumber : jakarta.bps.go.id

 

Dampaknya adalah semakin banyak warga Jakarta yang memerlukan akses terhadap air bersih. Banyak dari mereka yang melakukan penggalian sumber air untuk mendapatkan air bersih yang tersimpan di akuifer (lapisan yang terdapat dibawah tanah yang mengandung air, terdiri dari batuan), Setiap tahunnya, sekitar 630 juta kubik air dipompa dari bawah tanah di kota Jakarta, dan ini menjadi alasan utama kota ini tenggelam. Banyak juga ditemukan kasus pengambilan air tanah dalam jumlah besar secara ilegal. Seperti pada pertengahan tahun 2018, Gubernur DKI Jakarta beserta teamnya melakukan inspeksi terhadap gedung-gedung di daerah Sudirman dan Thamrin. Dari inspeksi tersebut ditemukan 56 gedung memiliki sumur resapan yang kedalamannya mencapai 200 meter dan 33 diantaranya ilegal. Dampaknya adalah tanah yang tadinya tanah mengandung air menjadi mulai mengering sehingga tanah menjadi padatkedalamannya mencapai 200 meter dan 33 diantaranya ilegal. Dampaknya adalah tanah yang tadinya tanah mengandung air menjadi mulai mengering sehingga tanah menjadi padat dan runtuh. Jika tanah di bagian bawah runtuh maka tanah di atasnya akan menggalami penurunan.

Peta persebaran wilayah yang terkoneksi dengan air ledeng (Sumber : journals.plos.org)
Penurunan tanah di Jakarta sejak tahun 1977 (Sumber : www.wijatnikaika.id)
  • Strategi penanganan

Menyikapi hal tersebut, Pada tahun 2014 gubernur DKI Jakarta melakukan pembangunan Tanggul Garuda Raksasa. Hingga saat ini pemerintah telah membangun 4,83 Kilometer Tanggul Laut dari total 120 Kilometer di Jakarta. Nilai proyek ini pun bukan main-main, yaitu 40 miliar dolar atau sekitar Rp.572.646.000.000.000 (kurs Rp.14316,15). Namun pembangunan ini sempat terhenti dikarenakan takut menjadi teluk beracunĀ  karena mengandung air sungai Jakarta yang tercemar, alasan lainya ialah banyak skandal kasus korupsi yang berhubungan dengan pulau-pulau dalam proyek tersebut

Proyek Tanggul Garuda Raksasa ( Sumber : investor.id )

 

( Penulis : Johan Agripa )

Sumber Foto : kumparan.com

Leave a comment