Turut Serta Peran Masyarakat dan Pemerintah Dalam Kasus Penipuan Berkedok Trading

March 24, 2022
adminviaduct

Crazy Rich Medan Indra Kusuma atau dikenal sebagai Indra Kenz ditetapkan sebagai tersangka kasus penipuan salah satu aplikasi Trading ternama. Dalam kasus ini Indra Kenz dijerat pasal berlapis, antara lain Pasal 45 ayat (2) Jo Pasal 27 ayat 2 dan atau Pasal 45 A ayat (1) jo Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Kemudian Pasal 3, Pasal 5, dan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, dan Pasal 378 KUHP jo Pasal 55 KUHP tentang Penipuan.

Selain Indra Kenz masih banyak afiliator lain yang saat ini bebas berkeliaran sembari memasarkan “judi online” guna mencari korban selanjutnya.  Penangkapan Indra Kenz membuat publik tanah air guncang, pasalnya sosok Indra Kenz dikenal sebagai seorang yang dermawan karena suka membagikan bantuan ke masyarakat kurang mampu dan juga sebagai role model anak muda yang dapat mencapai kesuksesan di umur 20-an. Penangkapan Indra Kenz menuai banyak komentar negatif dari netizen terutama para korban yang merasa tertipu oleh aplikasi trading tersebut.

Para korban beranggapan bahwa ini semua tanggung jawab Indra Kenz, segala kerugian yang dialami harus diganti oleh Indra Kenz. Apakah ini 100% tanggung jawab Indra Kenz? Tentu tidak. Jika kita telisik lebih dalam, ini semua terjadi bukan semata-mata karena ulah Indra Kenz, melainkan adanya turut serta peranan dari masyarakat itu sendiri. Sebelum terjun atau “bermain” dalam dunia trading, seharusnya masyarakat mempelajari apa itu trading dan bagaimana cara mengoperasikannya. Masyarakat juga harus tau apa itu real trading dan penipuan dengan berbalut kata-kata trading.

Sumber: suaramerdeka.com

John S Carrol dalam bukunya Commiting A Crime, The Offender Decision berpendapat bahwa kejahatan adalah realisasi keputusan yang diambil dengan turut mempertimbangkan beberapa faktor antara lain: SU (Subjective Utility), p(S) (Probability of Success), G (Gain), p(F) (Probability of Fail) dan L (Loss); SU = (p(S)xG) – (p(F)xL). Jika rumus ini dianalisa dengan optik korban, maka besaran keberhasilan suatu tindak kejahatan terletak pada keadaan diri ataupun tipologi calon korban. Jika dikaitkan dengan dengan kasus Indra Kenz, peluang keberhasilan tindak kejahatan sangatlah besar, karena korban mudah terbuai dengan kata-kata manis Indra Kenz ataupun Affiliator lain yang menawarkan keuntungan yang sangat besar dalam waktu singkat tanpa menganalisa sumber keuntungan tersebut dari mana dan apakah platform yang digunakan sudah legal di Indonesia. Selain itu, kondisi korban yang kebanyakan berasal dari ekonomi rendah juga turut membantu kesuksesan tindak kejahatan ini.

Selain peran masyarakat umum, para tokoh ternama tanah air pun secara tidak langsung turut “mendukung” investasi bodong binary option dengan cara mempromosikan aplikasi ilegal seperti Binomo, Olymp Trade, IQ Option, Weltrade hingga Urban FX Trade. Sebut saja Boy William dalam youtubenya yang beberapa kali mempromosikan OctaFX, bahkan Boy mencantumkan logo OctaFX dan link tautan untuk men-download dan bergabung di OctaFX. Selanjutnya, ada Kuy Entertainment dalam program Semprod yang diisi oleh Boris Bokir, Gading Marten, Rizky Firdaus Wijaksana (Uus), dan Andhika Pratama yang mengatakan bahwa OctaFX dapat memberikan profit yang positif (CNBC Indonesia). Selain itu ada juga youtuber sekaligus pilot Vincent Raditya yang turut serta mempromosikan binary option. Seharusnya sebagai pesohor tanah air, alangkah baik untuk cermat memilih produk yang akan dipromosikan dan lebih bijak dalam menyampaikan informasi.

Maka dari itu, perlu adanya peran pemerintah dalam membasmi penipuan berkedok trading. Pemerintah dapat memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat umum agar lebih berhati-hati dalam memilih instrumen investasi. Pemerintah juga dapat memasukan mata pelajaran investasi dan keuangan di sekolah tingkat pertama dan menengah, agar masyarakat teredukasi sejak dini tentang investasi dan keuangan. Selain sosialisasi dan edukasi, perlu adanya kebijakan yang lebih ketat dalam mengatur investasi agar kasus yang sama tidak terulang kembali.

 

Penulis: Johan Agripa

Thumbnail: ekbis.sindonews.com

Leave a comment